Bebas Bersyarat, Eks Napi Kasus Narkoba Kembali Diciduk Edarkan Sabu

oleh
Kepala BNNP Sultra Brigjen Polisi Imron Korry saat menggelar konferensi pers penangkapan dua tersangka kurir sabu di kantor BNNP Sultra, Senin (18/3/2019).
  • 10
    Shares

ANOATIMES,ID. KENDARI – Mendapatkan status bebas bersyarat seharusnya dimanfaatkan HPS (29) untuk merubah hidupnya. Namun, kesempatan itu tidak dimanfaatkannya dengan baik.

HPS harus kembali berurusan dengan aparat akibat kembali berulah mengedarkan narkoba jenis sabu. HPS ditangkap tim Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulawesi Tenggara (Sultra).

Tersangka HPS yang berdomisili warga Kelurahan Wowanggu, Kecamatan Kadia, Kota Kendari. Diamankan di pelabuhan feri Kolaka, Jumat (15/3/2019). Ternyata HPS baru kembali dari Sulawesi Selatan (Sulsel).

Kepala BNNP Sultra, Brigjen Polisi Imron Korry dalam konferensi persnya, Senin (18/3/2019), mengatakan penangkapan HPS yang juga eks napi kasus narkoba ini, berawal dari laporan masyarakat akan adanya penyeludupan narkoba jenis sabu dari pelabuhan Bajoe (Sulsel) menuju Kolaka (Sultra).

“Dari situ tim melakukan penyidikan dan pengejaran terhadap tersangka HPS. Saat kapal KM Faiz rute Bajoe-Kolaka tiba di pelabuhan Kolaka. Kami dibantu KP3 melakukan penyisiran dan berhasil mengamankan HPS,” terangnya.

Operasi penangkapan tersangka JPS kata Imron Korry, pihaknya mendapatkan dua bungkus plastik bening diduga narkoba jenis sabu seberat 1.083 gram yang disimpan dalam dua bungkus susu bubuk.

Di tempat yang sama, BNNP Sultra juga merilis salah satu tersangka pengedar sabu yang berhasil diamankan tanggal 12 Maret.

Tersangkanya inisial SD (24), warga lorong Bunga Kolosua, Kelurahan Kemaraya, Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari.

“SD kita amankan saat dia akan mengambil paket sabu yang sudah disimpan suatu tempat di pasar panjang,” katanya.

Dari operasi penangkapan hari Selasa (12/3/2019), Imron Korry mengatakan didapatkan barang bukti tiga paket sabu seberat 15,83 gram yang disimpan dalam bungkus rokok.

Atas perbuatan SD dan HPS, keduanya dijerat Pasal 114 ayat (2) subs Pasal 112 (2) dan atau Pasal 127 ayat 1 huruf a UU RI Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Dengan ancaman hukuman minimal 6 tahun penjara dan maksimal hukuman mati.

Laporan : Yus