Bripda Zulfikar dan Fislan Divonis 5 Tahun Penjara

oleh -164 views
Dua pelaku penganiayaan Bripda M Faturrahman, yakni Bripda Zulfikar dan Bripda Fislan saat menjalani tes urine oleh tim Dokpol Rumah Sakit Bhayangkara Kendari. Foto : Polda Sultra for Anoatimes.id

ANOATIMES.ID, KENDARI – Majelis hakim Pengadilan Negeri Kendari, Senin (28/1), memvonis lima tahun penjara dua oknum anggota Sabhara Polda Sultra yaitu Bripda Zulfikar dan Bripda Fislan, karena menganiaya juniornya almarhum Bripda M Faturrahman. Putusan majelis hakim ini berbeda dengan tuntutan jaksa penuntut umum, yang menuntut kedua oknum polisi ini masing-masing delapan tahun penjara.

Ketua majelis hakim, I Ketut Pancaria dalam putusan yang dibacakannya, menilai kedua terdakwa terbukti secara sah meyakinkan melakukan tindak pidana penganiayaan mengakibatkan kematian sebagaimana diatur dalam pasal 351 ayat 3 KUHP. “Kedua terdakwa secara sah dan meyakinkan melakukan penganiayaan yang menyebabkan kematian korban Faturrahman,” ucapnya membacakan putusannya.

Baca Juga : Sidang Kematian Bripda M faturahman, Ahli Hukum: Tidak Dibenarkan Senior Aniaya Junior

Dalam pertimbangan majelis hakim, Zulfikar dan Mislan sengaja datang ke asrama Dalmas Polda Sultra tempat tinggal korban serta teman seangkatannya, untuk menanyakan siapa yang sudah jalan bersama istri terdakwa Zulfikar. Namun mereka tidak memberikan jawaban. Sehingga korban bersama teman-teman seangkatannya dipukul oleh Zulfikar kemudian disusul Fislan lakukan pemukulan.

Menurut majelis hakim, kedatangan terdakwa Zulfikar dan Fislan ke asrama korban kemudian lakukan pemukulan sudah menunjukkan ada niat kedua terdakwa untuk melakukan penganiayaan. Di peristiwa pemukulan itu, majelis hakim menemukan fakta di persidangan, bahwa korban M Faturrahman dipukul tepat di dada kiri dan ulu hati.

“Dari laporan forensik rumah sakit Bhayangkara Kendari. Pada tubuh korban terdapat luka memar di dada kiri korban, retak tulang rusuk ketujuh di dada kiri dan cedera dalam pada bilik kanan jantung,” paparnya.

Dari cidera luar dan dalam tubuh korban, kata hakim ketua I Ketut Pencaria, menjadi penyebab kematian korban. “Sehingga unsur penganiayaan mengakibatkan kematian dalam pasal 351 ayat 3 telah terpenuhi,” ujarnya.

Majelis hakim juga menilai ada hal yang memberatkan diantaranya perbuatan kedua terdakwa meresahkan masyarakat, telah menghilangkan nyawa orang lain dan membuat duka mendalam pada keluarga korban. “Sedangkan hal-hal yang meringankan, kedua terdakwa berlaku sopan di pengadilan dan mengakui serta menyesali perbuatannya,” kata hakim I Ketut Pancaria.

Laporan : Jayusman