Dinilai Tidak Profesional Tangani Pasien, Dirut RSUD Wakatobi Angkat Bicara

oleh
Dr Munardin Malibu

ANOATIMES.ID,WAKATOBI – Pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Wakatobi disoal. Seorang keluarga pasien yang kecewa dengan pelayanan RSUD, yang berujung pada meninggalnya pasien bernama Suparno, warga Desa Sama Bahari, Kecamatan Kaledupa.

Pasien 37 tahun itu, dilarikan ke RSUD Wakatobi karena menderita kanker di leher pada 18 Juni 2019, dan langsung masuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD). “Tenaga medis mengatakan harus dioperasi,” kata seorang keluarga Suparno, Lilis saat ditemui di kediamannya, Selasa (25/6/2019).

Namun, dikarenakan terbentur biaya, keluarga pasien memutuskan untuk membawa kembali Suparno ke rumahnya di Desa Sama Bahari. Suparno dibawa menggunakan perahu kecil katinting.

“Pada saat itu saya jemput di pelabuhan jabal dan saya langsung bawa ke RSUD pakai Viar lansung ke IGD, disana diperiksa, dijelaskan bahwa ini harus dioperasi dan saya pada saat itu balik sementara ke rumah untuk membikin kan mereka (keluarga Suparno) makanan dan ketika saya balik, akhirnya keluarga memutuskan untuk kembali dulu ke rumah karena tidak ada BPJS dan nanti ada BPJS baru kembali, dan pegai disitu juga menyarankan agar balik dulu nanti urus dulu BPJSnya selama dua minggu baru kembali,” ujarnya.

Selanjutnya, Pada tanggal 21 Juni 2019, kata Lilis, Suparno dijemput oleh Dinas Sosial dan dibawa ke RSUD untuk dioperasi. Setelah operasi dilakukan, 22 Juni sekitar pukul 24.00 Wita malam pasien mengalami pendarahan.

“Ada yang melihat, cuman pada saat itu hanya disampaikan nanti besok pagi baru ada pergantian verban terus sekitar jam 02.00 malam dia datang lagi tapi pendarahan itu hanya di tambal, ibarat kain yang lubang itu di tambal sulam gitu,” ungkap Lilis

Hingga akhirnya korban menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 23 Juni sekitar jam 15.00 wita. Oleh sebab itu, keluarga korban menduga meninggalnya korban karena kurangnya penanganan medis dan seolah ada pembiaran dari pegawai RSUD Kabupaten Waktobi.

Ditempat yang berbeda, Direktur RSUD Wakatobi, dr. Munardin Malibu membantah tudingan bahwa RSUD tidak bekerja secara profesional.

“Tudingan tersebut tidak benar. Staf sudah bergantian untuk urus ganti perbannya beberapa kali, diberikan oksigen sesuai kebutuhannya dan pelayanan lainnya, Pertanyaannya adalah apakah orang yang memberikan informasi bahwa pihak RSUD membiarkan pasien mengalami pendarahan dari jam 12 malam sampai jam 7 pagi itu, mendampingi terus saat pasien diberikan pelayanan-pelayanan tersebut?” ungkapnya.

“Kami hanya mengganti perban paling atas, tanpa membuka lapisan perban paling bawah dengan maksud mengurangi resiko perdarahan lebih banyak dengan harapan bahwa proses pembekuan darah disekitar luka dapat terjadi. Resiko dari membuka lapisan perban paling bawah adalah perdarahan yang lebih banyak,” ujarnya.

Ia pun membantah bahwa telah menolak  pasien saat di bawa ke RSUD, pasien tersebut tetap kami terima, namun karena tidak memiliki BPJS, pihak keluarga memilih untuk keluar, bahkan RSUD menganjurkan agar keluarga mengurus BPJS dari program Pemda Wakatobi, agar biaya pengobatan atau operasi tidak dibebankan ke pasien.

“Justru kami anjurkan urus BPJS karena akan banyak biaya kalau mereka tidak punya BPJS, tapi saat itu mereka memilih pulang karena tidak ada Kartu Keluarga (KK) sebagai syarat urus BPJS.” Jelasnya

Belakangan kami ketahui beritanya bahwa saat pasien pertama kali masuk rumah sakit, ternyata pasien belum tercatat sebagai warga Wakatobi, namun masih sebagai warga Nunukan, Kalimantan, sehingga Pemda Wakatobi  membantu mengurus pindah penduduk almarhum pada tanggal 20 Juni 2019 agar tercatat sebagai warga Wakatobi dan mendapatkan  BPJS bersinar.

Direktur RSUD dr. Munardin Malibu juga mengapresiasi inisiatif  Kadis Sosial yg menjemput dan memfasilitasi masuknya kembali pasien tersebut ke RSUD.

“Kami sangat berterima kasih kepada Pak Jamrudin (Kadis Sosial) dan semua pihak yang telah membantu dan memfasilitasi masuknya kembali pasien, Pasien bahkan telah memiliki Kartu Kesehatan bersinar,” tutup Munardin Malibu.

Laporan : Syaiful