Dituding Paksa Warga Jual Lahannya, PT BIG : Itu Tidak Benar

oleh -37 views
Ilustrasi
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

ANOATIMES.ID, KENDARI – Hadirnya investasi di suatu daerah tentu akan membawa dampak perekonomian di daerah tersebut. Apakah itu meningkat atau menurun, tinggal bagaimana pemerintah mengatur regulasinya.

Di Kabupaten Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) saat ini tengah masuk satu investasi besar di bidang baja. Investasi tersebut ialah perusahaan asal Tiongkok, yakni PT Bhisi Industry Grup (BIG).

PT BIG akan beroperasi di Kecamatan Mataoleo. Saat ini, perusahan dengan nilai investasi itu Rp 36 Triliun itu tengah melakukan pembebasan lahan milik warga yang nantinya akan dipergunakan.

Total ada 1000 hektar lahan warga yang akan dibebaskan. Pembebasan lahan tersebut dilakukan dengan dua tahap. Namun, dalam upaya pembebasan lahan, PT BIG diterpa isu miris. PT BIG dituding memaksa warga untuk menjual lahan mereka ke perusahaan.

Site Opration Manager PT BIG, Dr. Abas membantah kabar miring tersebut. Dirinya menjelaskan PT BIG tidak pernah memaksa warga untuk menjual lahan mereka ke perusahaan.

“Itu tidak benar,” tegas Abas, akhir pekan kemarin.

Abas menceritakan target lahan yang dibebaskan ialah 1000 hektar dalam dua tahap, di tahap awal target 800 hektar, sisanya di tahap ke dua.

” Ditahap awal itu ada 730 orang yang memiliki lahan yang dijumlahkan memenuhi target tahap pertama yaitu 800 hektar. 730 pemilik lahan kemudian mau menandatangani MoU karena telah menerima kesepakatan dengan pihak perusahaan,” ujarnya.

Kesepakatan tersebut antara lain pemberian bonus uang tunai diluar harga lahan kepada 730 warga yang telah sepakat dan menandatangani MoU dengan perusahaan. Pemberian bantuan biaya pendidikan ketika perushaan mulai beroperasi, serta adanya jaminan keluarga pemilik lahan untuk dapat masuk bekerja di perusahaan.

“Itu semua telah disetujui dan disepakati melalui MoU,” paparnya.

Namun, belakangan ada 40 pemilik dari 730 pemilik lahan yang berubah pendapat dan enggan melanjutkan proses pembebasan lahan. PT BIG menduga ada pihak lain yang mempengaruhi warga.

” Mereka bukan menolak sebenarnya, hanya saja tidak melanjutkan kometmen dari awal. Karena kalau menolak pasti tidak tanda tangan MoU, bahkan sudah menerima bonus. Namun itu tidak membuat kami pihak perusahaan melepas 40 pemilik lahan tersebut,” katanya.

Abas menambahkan perusahaan kemudian melakukan pertemuan kepada 40 pemilik lahan yang katanya menolak dan mengaku dipaksa menjual lahannya, untuk melakukan komunikasi kembali.

“Hasilnya, 30 dari 40 pemilik lahan sudha menyetujui kembali untuk dibebaskan. Sisanya masih tetap belum mau melanjutkan proses pembebasan lahan. Menurut kami mereka hanya dipengaruhi oknum yang mau mengambil keuntungan lebih dengan memanfaatkan masyarakat,” tutupnya.

Laporan : Awi

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •