HMI Cabang Baubau Butuh Tangan Progresif

oleh -108 views
Ketua Umum HMI Komisariat FKIp Unidayan periode 2016-2017, La Ode Riski

oleh : LA ODE RIZKI S. A. P
(Bakal Calon Ketua Umum HMI Cabang Baubau Periode 2018-2019 M)

Tulisan ini dibuat untuk sekedar memenuhi salah satu persyaratan menjadi calon Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Baubau Periode 2018-2019 M. Entah ini masuk dalam kategori opini atau bukan, yang pasti tulisan ini secara pribadi merupakan beberapa keresahan sebagai seorang kader terhadap himpunannya serta ulasan lebih lengkapnya bisa dibaca dalam makalah berjudul “Independensi HMI Ditengah Tantangan Zaman” oleh La Ode Rizki S. A. P. Makalah tersebut juga ditulis hanya sekedar untuk memenuhi persyaratan calon Ketua Umum HMI Cabang Baubau sebagaimana yang telah ditetapkan oleh stering comitte dalam kriteria dan syarat pencalonan.

Himpunan Mahasiswa Islam yang sejak didirikan memiliki banyak peran ditiap rentetan perjalanan sejarah bangsa, rasanya sudah jauh berbeda dengan kondisi saat ini. Sebut saja kondisi kader-kadernya yang dulu banyak memberikan kontribusi pikir terhadap negara sampai daerah bahkan desa tetapi kini rasanya hal tersebut sudah sulit untuk kita jumpai. Tak hanya itu, HMI yang dulu pernah disebut sebagai Harapan Masyarakat Indonesia oleh Jendral Soedirman nampaknya sekarang tak lagi menjadi tombak pengharapan masyarakat di Bangsa ini.

Banyak indikator yang bisa kita jadikan perbandingan antara kondisi HMI yang dulu (1947-2000) dengan 18 tahun belakangan ini. Sebut saja misalkan di era orde lama-orde baru, HMI menjadi motor penggerak masa dan tombak terdepan atau yang disebut avant garde bangsa oleh Prof. Dr. Agusalim Sitompul (2008) karena kemampuan kader-kadernya dalam menggagas sebuah perubahan ditengah masyarakat kini HMI hanya dicap sebagai penyebab macetnya jalan ketika melakukan suatu demonstrasi oleh sebagaian masyarakat. Atau dari sudut pandang berbeda, jika dulu kader-kader HMI dihormati karena kualitas intelektualnya sangat tercermin saat mendiskusikan sesuatu dengan orang diluar HMI, saat ini sebagian orang malah menganggap bahwa kader-kader HMI hanya pandai berpendapat dengan muatan pernyataan yang berisi ribuah bahkan jutaan pembenaran tanpa mengedepankan kualitas. HMI yang dulu menjadi organisasi yang paling banyak diminati oleh mahasiswa karena tradisi intelektual kader dan sebaran jejaring alumninya dalam berbagai lini kehidupan masyarakat, saat ini nampaknya sudah tidak lagi menjadi sebuah lembaga menarik yang posisinyapun hampir sama dengan organisasi mahasiswa lainnya.

Lantas, apa penyebab masalah ini ?

Pertama, terlenanya kader-kader dalam romantisme sejarah berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam serta peran para generasi pendahulu yang kini tergabung dalam KAHMI. Romantisme ini terkadang menjadi kebanggaan tersendiri tiap kader hingga berdampak pada keangkuhan terhadap sejarah kebesaran masa lalu. Imbas dari persoalan ini adalah tidak adanya keinginan kader untuk berbenah diri dalam banyak hal.

Kedua, kurangnya pembinaan berkelanjutan (followup) yang dilakukan oleh komisariat penyelenggaran Latihan Kader pada anggota baru hingga menimbulkan kesan bahwa ber-HMI hanya sekedar Bastra atau sekedar mengejar label untuk disebut sebagai kader HMI.

Ketiga, kurangnya silaturahmi antar kader dan alumni HMI sehingga sebagian alumni beranggapan bahwa kader hanya membutuhkan alumni saat sedang membutuhkan anggaran kegiatan.

Padahal begitu pentingnya hubungan ini tetap kita jaga agar kedepan kader-kader HMI dapat didistribusi keseluruh elemen kehidupan masyarakat sesuai dengan disiplin ilmunya atas bantuan alumni.

Keempat, kurangnya kreatifitas kader untuk berpikir wirausaha sehingga menimbulkan kesan bahwa kader-kader hanya bergantung kepada alumni dalam menyelenggarakan hampir seluruh program kerja kepengurusan.

Selain itu, imbas dari masalah ini adalah lahirnya kesimpulan pada sebagian mahasiswa yang menganggap bahwa taka da sesuatu yang dapat kita peroleh dari ber-HMI. Selain beberapa persoalan diatas, masih banyak masalah yang harus menjadi perhatian kita untuk memikirkan himpunan tercinta menuju sebuah lembaga yang progresif.

Himpunan Mahasiswa Islam adalah satu-satunya organisasi mahasiswa tertua di Indonesia. Berdiri dua tahun pasca kemerdekaan bangsa cukup menjadikan HMI sebagai organisasi yang dewasa. Ketika beberapa persoalan diatas terjadi, itu bukanlah kesalahan HMI secara kelembagaan tapi ada manajemen yang kurang tepat dalam tubuh himpunan ini. Kader-kader HMI adalah mahasiswa yang memiliki kesungguhan besar dalam mengembangkan diri jika himpunan ini dapat membukakan wadah sesuai dengan kebutuhan mereka. Hanya saja, perlu adanya manajemen yang baik dan efektif dari masing-masing nahkoda dalam tatanan struktur Himpinan Mahasiswa Islam mulai dari tingkatan Pengurus Besar hingga cabang dan komisariat agar dapat membawa HMI secara kelembagaan kearah yang lebih progres.

 

Catatan : Isi Opini Sepenuhnya Merupakan Tanggung Jawab Penulis