Inovasi Inseminasi Sapi, UHO Bersama Distanak Sultra Evaluasi Semen Beku Sapi Bali Hasil Sexing

oleh -24 views
Penampungan Semen Sapi Bali

ANOATIMES.ID, KENDARI – Penggunaan sperma hasil sexing dalam perkawinan ternak sapi dapat meningkatkan efisiensi reproduksi, karena jenis kelamin sapi yang diproduksi dapat dikendalikan sesuai dengan keinginan.

Namun semen sexing yang diproduksi masih dalam bentuk semen atau sperma cair mempunyai kelemahan, seperti masa simpan yang relatif pendek yaitu paling lama 7 hari disimpan pada suhu 3-5 derajat Celcius.

Kelemahan sperma cair ternak sapi menginspirasi UPTD Balai Pembibitan dan Pakan Ternak Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanak) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) meneliti sperma beku sapi.

“Telah menginspirasi kami untuk melakukan penelitian yang mempunyai keluaran berupa semen beku hasil sexing,” ungkap Ketua tim penelitian, Prof Dr Ir H Takdir Saili M Si, Senin (7/12/2020).

Dia menjelaskan, dalam memproduksi semen beku, selain medium pengencer juga dibutuhkan zat pelindung sperma dari cekaman dingin (krioprotektan) selama pembekuan dan penyimpanan di dalam nitrogen cair dengan suhu -196oC.

“Oleh karena itu, pada penelitian ini akan dievaluasi kemampuan gliserol dan etilen glycol dalam mempertahankan motilitas sperma hasil sexing setelah equilibrasi dan pembekuan (post thawing motility, PTM),” jelasnya.

Takdir mengatakan, dari hasil penelitian menunjukkan motilitas sperma hasil sexing setelah equilibrasi tidak menunjukkan perbedaan nyata antara sperma yang dikriopreservasi dengan gliserol dan etilen glikol.

“Akan tetapi, sperma hasil sexing yang dikriopreservasi dengan gliserol mempunyai nilai PTM yang nyata lebih tinggi dibandingkan dengan sperma yang dikriopreservasi dengan etilen glikol,” katanya.

Berdasarkan hasil penelitian mereka lakukan, Takdir menjelaskan dapat disimpulkan bahwa jenis krioprotektan berpengaruh terhadap motilitas sperma hasil sexing setelah pembekuan tetapi tidak setelah equilibrasi.

Selain itu kata dia, gliserol dapat mempertahankan motilitas sperma hasil sexing setelah pembekuan yang lebih baik dibandingkan dengan etilen glikol. Semen dalam bentuk beku sangat efisien penggunaannya, dapat disimpan dalam waktu lama dan setiap saat bisa digunakan untuk diinseminasikan pada sapi betina.

“Pada gilirannya, hasil penelitian ini akan dikembangkan dengan memproduksi semen beku dalam skala yang lebih besar untuk diujicobakan pada ternak sapi masyarakat,” tukasnya.

Diketahui, dalam melakukan evaluasi dan penelitian ini, Takdir dibantu oleh Dr Ir Ali Bain MSi, Dr Ir La Ode Naflu MSi, Febiang Nopulalan Spt MPt, dan 3 orang mahasiswa (1 orang mahasiswa S2, dan 2 orang mahasiswa S1).

Laporan : Jayusman