Laporan Pencurian Ore Nikel, PT PDI Sebut BB Ore Nikel Hilang, Polisi : BB Masih Ada

oleh -276 views
Penyidik Subdit III Ditreskrimum Polda Sultra saat turun ke lokasi PT Akar Mas. Foto : Istimewa

ANOATIMES.ID, KENDARI – Direktur Utama PT Prima Duta Internasional (PDI), Mardin Nurdin melaporkan dugaan pencurian ore nikel miliknya ke Polda Sultra yang diduga dilakukan oleh Direktur PT Akar Mas, H Harun Basnapal. Namun, dalam prosesnya, Mardin Nurdin merasa kecewa sebab barang bukti (bb) ore nikel 43 ribu metrik ton sudah tidak ada di lokasi penyimpanan terakhir yakni di lokasi PT Akar Mas.

PT PDI dan PT Akar Mas sebelumnya terikat kerjasama namun hanya secara lisan di tahun 2013 lalu. PT PDI mengangkut mengangkut ore nikelnya ke lokasi PT Akar Mas dengan nilai 25 dolar per metrik ton, berjalan, saat itu pemerintah memberlakukan UU Minerba sehingga PT PDI menghentikan pengangkutan, namun 43 ribu metrik ton ore sudah berada di lokasi PT Akar Mas. Ore yang sudah berada di lokasi PT Akar Mas tidak dapat dijual, sedangkan PT Akar Mas sudah memberikan uang senilai Rp 1,8 miliar ke PT PDI.

Untuk menyelesaikan persoalan itu, akhirnya Mardin dan H Harun bertemu di Jakarta. H Harun meminta uangnya senilai Rp 1,8 miliar kembali. Dalam pertemuan tersebut disepakati siapa yang mendapat pembeli agar saling berkoordinasi.

Baca Juga : Dokumen Dipalsukan, PT Bososi Pratama Lapor Polisi

“Bulan 9 di 2018, H Harun mengangkut 10 ribu metrik ton tapi kami tidak persoalkan, karena memang ada uang milik H Harun Rp 1,8 miliar. Tetapi di akhir bulan 12 H Harun kembali mengangkut, makanya kami laporkan ke Polda,” kata Mardin Nardin.

“Informasi kami terima barang bukti sisanya yakni 33 ribu metrik ton sudah tidak ada. Konfirmasi dari Syahbandar pihak kepolisian mengizinkan kapal MV Silvia Ambition berlayar dengan membawa ore itu,” ungkapnya.

Di waktu yang berbeda, Kasubdit III Ditreskrimum Polda Sultra, Kompol Robby T Manusiwa membantah bahwa bb sudah tidak ada di lokasi. Dirinya juga mengatakan sejauh ini bukti kepemilikan ore dengan jumlah 43 ribu metrik ton itu masih harus diselidiki, sebab sampai saat ini, pelapor (Mardin Nardin, red) belum menyerahkan bukti kepemilikan ore dengan jumlah 43 ribu metrik ton.

“Kami sudah mendatangi TKP dan memeriksa saksi-saksi, namun kami belum menemukan bahwa pelapor memiliki ore sebanyak 43 ribu metri ton. Sampai saat ini juga pelapor belum menyerahkan bukti kepemilikan ore yang menunjukan jumlah ore 43 ribu metrik ton seperti dalam laporan,” katanya.

Robby menjelaskan proses masih berjalan, penyidik terus melakukan pemeriksaan kepada para saksi-saksi dan mengumpulkan bukti-bukti lainnya. Saat ini sudah ada lima saksi dari pelapor yang sudah diperiksa, dan rencananya pada 30 Januari penyidik bakal memeriksa sejumlah saksi lainnya. Untuk bukti yang sudah diserahkan Mardin baru berupa berkas kerjasama atau JO antara PT DRI dan PDI.

“Sedangkan nota angkutan untuk menunjukan bahwa ore nikel yang sudah diangkut ke lokasi PT Akar Mas berjumlah 43 ribu belum juga diserahkan ke penyidik. Ore itu kan sudah disimpan sejak 2013 lalu, dan baru ditengok oleh Mardin nanti saat-saat ini. Inikan laporan pecurian, untuk itu harus ada bukti kepemilikan ore,” jelas Robby.

Lanjut, mantan Wakapolres Kolaka ini menambahkan dari hasil penyelidikan sementara ore yang diklaim oleh Mardin Nardin sudah sejak 2013 berada di lokasi PT Akar Mas dan saat itu PT Akar Mas sudah mengeluarkan Rp 1,8 miliar ke PT PDI. Kemudian melalui kuasa direksi PT Akar Mas bernama H Lukman, PT Akar Mas sudah menjual ore melalui broker yang menurut informasi berinisial Jm sebesar 5650 metrik to, bila di total bernilai Rp 570 juta.

“Barang-bukti masih ada di jeti Kolaka,” tutupnya.

“Selama ini kami belum menemukan bukti kepemilikan ore nikel, dan Mardin belum bisa membukyikan melalui laboratorium berapa kadar ore nikel pada saat itu berapa, hukum tidak bisa menduga-duga. bb sudah di simpan 5 tahun, sedangkan sifat ore bisa menyusut,” tutupnya.

Laporan : Awi