Liput Unras Kematian Randi dan Yusuf, Sembilan Jurnalis Kendari Diduga Diintimidasi Bahkan Diteror

oleh -35 views
Aksi unjuk rasa untuk kesekian kalinya dilakukan mahasiswa Kendari menuntut penuntasan kasus kematian Randi dan Yusuf di depan Polda Sultra. Foto : Jumdin / anoatimes.id
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

ANOATIMES.ID, KENDARI – Sembilan jurnalis di Kota Kendari diduga mendapat tindakan intimidasi dari sejumlah oknum kepolisian yang bertugas di Polda Sultra. Tindakan intimidasi tersebut terjadi saat sembilan jurnalis melakukan peliputan aksi unjuk rasa dari ratusan mahasiswa, Selasa (22/10/2019) yang menuntut penuntasan pengusutan kematian dua rekan mereka yaitu Randi dan Yusuf yang tewas saat terjadi bentrokan antara kepolisian dan mahasiswa pada 26 September 2019 lalu di depan Kantor DPRD Sultra.

Ke sembilan jurnalis yang diduga mendapat tindakan intimidasi antara lain Ancha (Sultra TV), Ronald Fajar (Inikatasultra.com), Pandi (Inilahsultra.com), Jumdin (Anoatimes.id), Mukhtaruddin (Inews TV), Muhammad Harianto (LKBN Antara Sultra), Fadli Aksar (Zonasultra.com), Kasman (Berita Kota Kendari) dan Wiwid Abid Abadi (Kendarinesia.id).

Ancha mengatakan saat dirinya melakukan pengambilan video, salah seorang yang diduga oknum polisi berpakaian sipil memintanya untuk menghapus rekaman video saat salah satu anggota TNI dievakuasi dari lokasi kericuhan.

“Oknum polisi itu sempat menanyakan identitas saya. Saya pun menjawab saya jurnalis sekaligus memperlihatkan ID Card. Mendengarkan jawaban itu, oknum tersebut memaksa saya untuk menghapus video. Karena merasa terancam, saya kemudian menghapus rekaman video yang ada di handycam-nya,” kata Ancha.

Sementara itu, Pandi dan Mukhtarudin juga mendapatkan tindakan yang sama. Polisi mencoba merebut handphone dan kamera milik mereka yang digunakan dalam mengambil gambar. Beruntung, Pandi dan Mukhtarudin sempat bertahan dan handphonenya tidak jadi direbut. Sedangkan Kasman dan Jumdin dilarang untuk mengambil gambar saat sejumlah oknum polisi mengamankan sejumlah massa aksi.

Jurnalis Juga mendapat Teror

Berbeda dengan Ancha, Pandi, Wiwid Abadi, Fadli Aksar hanya mendapat intimidasi untuk menghapus vide dan gambar mereka, Ronal Fajar malah mendapatkan teror yang diduga dari oknum kepolisian.

Kata Ronal, seorang oknum polisi berpakaian sipil mendatangi dirinya dan mencoba merampas handphone yang digunakan mengambil video. Oknum polisi tersebut juga memegang tangan Ronald dengan kuat lalu mengambil handphonenya. Karena handphone dalam mode terkunci, oknum polisi tersebut memaksa Ronald untuk membuka kuncinya. Karena merasa terancam, Ronald membuka mode kunci ia langsung menghapus semua dokumen foto dan video pada saat demonstrasi ricuh.

Setelah oknum polisi tersebut pergi, seorang polisi berpakaian provos kembali mendatangi Ronald dan memastikan video tersebut sudah dihapus. Ronal juga mendapatkan teror via telepon seluler oleh oknum tertentu.

“Oknum itu menanyakan alamat tempat tinggalnya dan mengatakan ada yang perlu dibicarakan. Saya membalas pesan Whatsapp itu dan menanyakan identitas oknum tersebut.
Bukannya menyebut indentitasnya, oknum tersebut malah mengirimkan foto saya sembari menanyakan “ini saudara ya?” ujar Ronal.

Tidak sampai disitu, peneror juga menelpon Ronald namun tidak diangkat. Oknum tersebut kembali mengirim pesan Whatsapp bahwa alamat kost Ronald di sekitar bundaran Kantor Gubernur Sultra dan meminta agar Ronlad menunggu di kostnya.

“Saya khawatir dan trauma akan keselamatan saya,” kata Ronal.

Saat ini, Ronal terpaksa diungsikan di daerah yang aman untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.

Dalam melaksanakan tugasnya, jurnalis dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999. Pasal 2 dalam UU Nomor 40 Tahun 1999 menegaskan, kemerdekaan pers adalah salah satu wujud kedaulatan rakyat yang berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan, dan supremasi hukum.
Dalam Pasal 4 ditegaskan, Kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara.

Terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau pelarangan penyiaran. Untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi.

Bagi pihak yang menghalang-halangi kerja jurnalis, melanggar Pasal 18 ayat 1 yakni, setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Lima ratus juta rupiah.

Dari kronologi di atas, tindakan oknum kepolisian di duga merupakan bentuk pelanggaran undang-undang. Untuk itu, Forum Jurnalis Sultra menyatakan sikap :

  1. Mengecam tindakan onknum polisi yang melakukan intimidasi, menghalang-halangi, sejumlah jurnalis saat melakukan peliputan.
  2. Mendesak Kapolda Sultra, Brigjen Pol Merdisyam, mengusut dan memberi sanksi kepada anggotanya yang menghalangi kerja-kerja sejumlah jurnalis saat peliputan.
  3. Tindakan sejumlah oknum polisi yang menghalangi, mengintimadasi dan kekerasan terhadap jurnalis melanggar Pasal 18 ayat 1, Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang pers.
  4. Mengutuk tindakan teror terhadap jurnalis inikatasultra.com, Ronald Fajar, diduga dilakukan oknum polisi.
  5. Mengimbau polisi dan semua pihak menghormati tugas jurnalis saat melakukan peliputan di lapangan, karena dilindungi undang-undang.
  6. Mengimbau kepada semua jurnalis, agar memperhatikan keselamatan saat melakukan peliputan dan menaati kode etik jurnalistik.

Laporan : Awi

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •