Masyarakat Napabalano Tolak Keras Masuknya PT Seleraya Agri

oleh -67 views
Pertemuan antara PT Seleraya Agri dengan masyarakat Kecamatan Napabalano di Balai Kecamatan Napabalano
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

ANOATIMES.ID, KENDARI – Ratusan Masyarakat dari dua desa yakni Desa Petiro, Desa Lambiku, dan dua kelurahan Kelurahan Tampo dan Kelurahan Napabalano di Kecamatan Napabalano, Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menolak keras masuknya PT Seleraya Agri.

Penolakan keras oleh masyarakat Kecamatan Napabalano didasari dengan adanya ke khawatiran dari masyarakat tentang akan adanya penyempitan wilayah di Kecamatan Napabalano dan juga dikhawatirkan akan merubah fungsi dari kawasan hutan.

Baca Juga : Gandeng UHO, KNPI Sultra Bakal Hadirkan Empat Menteri

Seorang perwakilan masyarakat, Niklan kepada anoatimes.id mengatakan PT Seleraya Agri merupakan perusahaan yang bergerak dibidang perkebunan jati, dan rencananya akan melakukan aktivitas penanaman jati di lokasi masyarakat yang sudah sejak lama di garap oleh masyarakat setempat.

“Masyarakat sadar tentang kawasan hutan olehnya itu masyarakat tetap menjaga fungsi dari kawasn hutan tersebut. Dan juga dari pada dibiarkan kosong maka masyarakat mengambil inisiatif mengolah lahan tersebut dengan bercocok tanam namun tidak merubah fungsi dari hutan tersebut,” ujar Niklan.

Baca Juga : Rusman Emba Masih “Bidik” Golkar dan Beberapa Partai Ini

Pria kelahiran Napabalano ini juga mengatakan perlu diketahui posisi Kecamatan Napabalano tepat berada di antara laut, dimana bagian kiri dan kanan berbatasan langsung dengan laut, semantara dibagian belakang dengan jarak beberapa meter sudah masuk area hutan.

“Jadi hanya sedikit daratannya, kalau PT Seleraya Agri masuk maka dapat mempersempit lokasi pemukiman masyarakat, sementara jumlah penduduk Kecamatan Napabalano tiap tahun terus bertambah,” katanya.

Selain itu juga, alasan masyarakat melakukan penolakan dikarenakan kompensasi pembagian hasil yang akan diberikan ke masyarakat tidak sesuai dengan keinginan masyarakat.

“Dari dua kali sosialisasi namun belum disepakati, pihak perusahaan mau memberikan kompensasi bagi hasil kepada masyarakat sebesar 85 persen (untuk perusahaan) dan 15 persen (untuk masyarakat), sedangkan keinginan masyarakat ialah 60 persen (perusahaan) dan 40 persen masyarakat,” katanya.

“Itupun dari 15 persen masih harus dibagi 2,5 persennya untuk lembaga masyarakat, artinya masyarakat hanya mendapat 13 persen,” ungkapnya.

Untuk diketahui, berdasarkan putusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No : 1041/Menlhk-PHPL.1/3/2016 PT Seleraya Agri diberikan kewenangan untuk menggarap lahan yang terletak di Kecamatan Napabalano, Kabupaten Muna.

Sementara itu, Camat Napabalano, Arwin Manan belum bisa terkonfirmasi saat dihubungi anoatimes.id terkait persaolan antara masyarakat dan PT Seleraya Agri.

Laporan : Awi

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •