Pengusutan Persoalan PT WAI Dinilai Mandeg, Forsemesta: Pekan Depan Kita Serahkan Bukti Baru

oleh -32 views
Muhammad Ikram Pelesa
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

ANOATIMES.ID, JAKARTA – Forum Mahasiswa Pemerhati Investasi Pertambangan (FORSEMESTA) Sulawesi Tenggara (Sultra) menilai pengusutan persoalan perusahaan tambang PT Wanagon Anoa Indonesia (WAI) oleh Mabes Polri terkesan mandeg.

Koordinator Presidium Forsemesta Sultra, Muhamad Ikram Pelesa melalui rilisnya yang diterima redaksi anoatimes.id, Jumat (1/10/2019) mengatakan pihaknya akan kembali mempertanyakan persoalan PT WAI ke mabes Polri.

Ikram menjelaskan sebelumnya dirinya pernah mendapat surat mengenai perkembangan kasus PT WAI oleh Mabes Polri dengan Nomor : B/322/II/RES.7.4/2019/Divhumas, yang ditanda tangani oleh Karo PID Divisi Hubungan Masyarakat Polri, Brigadir Jenderal Drs. F. FJ. Mirah tertanggal 28 Februari 2019. Namun, hingga November ini, Forsemesta tidak lagi mendapat informasi perkembangan kasus tersebut.

“Sudah 8 Bulan kasusnya mandeg dimeja Kabareskrim, kami tidak mendapatkan lagi informasi tentang kasus PT. WAI. Untuk itu kami akan kembali mempressure persoalan itu. Sekaligus kembali memberikan data pelanggaran terbaru yang dilakukan PT. Wanagon Anoa Indonesia,” katanya.

Tidak hanya akan ke Mabes Polri, Forsemesta juga akan ke Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Kementrian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLH) sehingga IUP PT WAI dapat dievaluasi, dihentikan dan dicabut.

“Dari semua Pelanggarannya sangat layak bagi Kementrian ESDM bersama KLHK RI untuk membehentikan dan mencabut izin PT. WAI, kami berharap minggu depan sudah ada kepastian hukum dalam kasus ini sehingga dapat memberikan efek jerah pada para penambang ilegal lainnya,” harapnya.

“Ada lagi temuan pelanggaran yang dilakukan oleh PT. WAI, itu disampaikan oleh DLH Konut bulan sembilan kemarin, beberapa pelanggaran diantaranya Belum memiliki Izin TPS LB3 dan izin pembuangan limbah Cair (IPLC). Adanya penampungan Ore Nickel dipinggir pelabuhan, kemudian jatuh kelaut, hingga mengakibatkan air laut menjadi keruh disektitar pelabuhan (Jetty). Tidak melakukan penyiraman jalan tambang. dan Tidak Melakukan Pelaporan UKL – UPL secara berkala,” tutup Wakil Sekertaris Jenderal Pengurus Besar (PB) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) itu.

Laporan : Awi

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •