Prof Aslan : Demi Menjaga Muruah dan Harga Diri UHO, Zamrun Harus “Gentle” Mundur

oleh -206 views
Prof Aslan saat menggelar konfrensi pers terkait dugaan plagiat Rektor UHO Prof Muhammad Zamrun. Foto : Awi / anoatimes.id
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

ANOATIMES.ID, KENDARI – Ombudsman Republik Indonesia (ORI) telah usai melakukan klarifikasi terhadap sejumlah pihak menyangkut dugaan plagiat yang dilakukan oleh Prof Muhammad Zamrun, dan hasilnya ORI menyatakan bahwa karya ilmiah dari Prof Muhammad Zamrun ialah plagiat.

Untuk itu, Prof Muhammad Zamrun yang saat ini menjabat Rektor Universitas Halu Oleo (UHO)Kendari diminta bersikap gentle mengakui dan mundur dari jabatannya, sebab tindakannya telah mencoreng nama baik UHO di mata dunia pendidikan.

Seperti yang datang dari perwakilan 30 Guru besar UHO yang melaporkan Prof Muhammad Zamrun ke ORI kala itu, Prof Aslan mengatakan demi menjaga maruah, harga diri, citra kebenaran akademik UHO maka Prof Muhammad Zamrun harus dengan gentle mundur.

Baca Juga : Lantik Hado Hasina Sebagai Pj Wali Kota Baubau, Ini Pesan Plt Gubernur Sultra

“Pada 23 Januari 2018 keluarlah rekomendasi itu dan ORI menyatakan bahwa itu plagiat, maka demi menjaga maruah, harga diri, dan citra kebenaran akademik kami harus menyatakan Zamrun harus gentle mundur dari Rektor,” tegas Prof Aslan saat menggelar konfensi pers di Hotel Imperial, Senin (5/2/2018).

Lebih lanjut, Prof Aslan mengatakan sejak awal dirinya dan puluhan guru besar lainnya sudah menyampaikan ke Kementrian Riset Teknologi dan Perguran Tinggi (Kemenristek Dikti) bahwa karya ilmiah Dr Muhammad Zamrun kala itu merupakan plagiat.

“Saya sedikit cerita dulu, pada 18 Juni 2017 lalu kami menggelar pertemuan di ruang Dirjen Sumber Daya Iptek Prof Ali Gufron dan saat itu kami di minta untuk persentase dan kesimpulan kami saat itu ada plagiat, dan dari sudut tim investigasi Kemenriste Dikti dinyatakan tidak plagiat, perbedaan itu timbul pada 18 Juni 2017 lalu, posisi kami sudah tidak sepakat,” tuturnya.

“Kami menggunakan Aplikasi Turnitin dan hasilnya ada karya ilmiah Dr Zamrun yang 72 persen similarity artinya itu plagiat, dalam aturannya jika indek similaritynya di atas 50 persen maka itu adalah plagiat. Kami hakkul yakin kalau Dr Zamrun sudah melakukan plagiat,” ungkapya.

Lanjut, menurut Prof Aslan, dalam hal UHO ini, Kemenristek Dikti terkesan tidak adil, pada kasus yang lain Kemenristek Dikti menggunakan Aplikasi Turnitin seperti pada UNJ, sedangkan kasus UHO Kemenristek Dikti tidak menggunakan Aplikasi Turnitin melainkan melihat pada substansi koten jurnal.

“Terkesan tidak adil, pada kasus seperti di UNJ, Kemenristek Dikti menggunakan Aplikasi Turnitin sedangkan pada kasus UHO hanya melihat pada substansi jurnal tanpa melakukan pemeriksaan terhadap tata cara penulisan dan indikasi plagiat sebagaimana di atur dalam ketentuan Permendiknas RI Nomor 17 tahun 2010,” tuturnya.

“Kalau ini dibiarkan, bagaimana dengan mahasiswa nantinya, mereka (mahasiswa) mengikuti skripsi, tesis, dan desertasi orang lain,” tambanya.

Laporan : Awi

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •