Rajiun : Demokrasi Itu Terbuka dan Siapa Saja Bisa Jadi Bupati di Muna

oleh -5 views
La Ode M Rajiun Tumada saat menghadiri Halal Bil Halal sekaligus silaturahmi di Kompleks Perumahan Lorong Labora Mandiri, Kelurahan Laiworu, Kecamatan Batalaiworu, Kabupaten Muna, Rabu (12/6/2019) malam. Foto : Kardono / anoatimes.id
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

ANOATIMES.ID, MUNA – Bupati Muna Barat (Mubar), Sulawesi Tenggara (Sultra), La Ode M Rajiun Tumada mengungkapkan bahwa politik itu terbuka dan siapa saja tokoh bisa menjadi bupati apa lagi mencalonkan diri sebagai kepala daerah di Kabupaten Muna ini.

Hal itu diungkapkannya saat menghadiri Halal Bil Halal sekaligus silaturahmi di kediaman bapak Surachman di Kompleks Perumahan Lorong Labora Mandiri, Kelurahan Laiworu, Kecamatan Batalaiworu, Kabupaten Muna, Rabu (12/6/2019) malam.

Kata Rajiun, sebagai warga negara Indonesia, siapa saja bisa mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Menurutnya, demokrasi itu terbuka, jangankan dirinya dan tokoh-tokoh lain bisa mencalonkan diri jadi bupati.

“Tidak ada yang larang orang mencalonkan diri sebagai bupati, silahkan saja. Sebab itu hak demokrasi setiap orang. Jadi siapa saja boleh jadi bupati, apa lagi di Kabupaten Muna ini,” kata mantan Kasatpol PP Sultra ini.

Menurutnya, Kabupaten Muna dan Mubar itu terpisah dari sesi administrasi pemerintahan. Tetapi, dari sisi adat dan budaya Muna dan Mubar tidak bisa dipisahkan sebagai masyarakat suku Muna yang lahir dari empat pilar besar yaitu Fato Ghoerano.

“Saya berterima kasih bisa silaturahmi bersama masyarakat lorong Labora Mandiri Raha. Pertautan dan peesaudaraan yang terjadi hari ini adalah wujud kebersamaan kita untuk membangun daerah bukan hanya di Mubar, tetapi juga di Muna ini yang merupakan saudara kita,” tuturnya.

Dalam acara silaturahmi ini, Rajiun mengingatkan kepada PNS, honorer dan tenaga pengabdi di lingkup Pemda Muna untuk mundur 50 langkah dari acara ini. Sebab, bukan dirinya tidak ingin silaturahmi bersama kalian, tetapi nanti ada terjadi sesuai yang tidak diinginkan.

“Dalam menjaga tali silaturahmi antara masyarakat Mubar dan Muna selalu dikaitkan dengan persoalan politik, saya selalu bingung dan heran. Politik untuk Pilkada Muna masih jauh yakni September 2020,” ungkapnya.

Rajiun menambahkan, dalam falsafah suku Muna mengajarkan saling menghargai, saling menghormati, saling mematuhi sebagai bentuk adat dan budaya yang tidak bisa dilepaskan. Tetapi, yang dilihatnya selama melakukan silaturahmi di Muna yang muncul seperti keirian, kedengkian dan intimidasi.

“Percaya saya kalau ini dipertahankan Muna dan Mubar tidak akan bangkit seperti daerah kabupaten/kota di Sultra ini. Kalau kita bangun kebersamaan yang lahir dari Fato Ghoerano, saya kira Muna dan Mubar bisa bersaing dengan daerah-daerah lain,” ucapnya.

“Daerah ini dibutuhkan ketegasan dan kedisiplinan maka keinginan dan harapan kita pasti akan terjawab,” tambahnya.

Laporan : Kardono

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •