RSUD Kota Kendari Diduga Lakukan Perbudakan Modern Terhadap Perawat

oleh -165 views
Ketua DPW PPNI Sultra, Heryanto SKM
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

ANOATIMES.ID, KENDARI – Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) Heryanto mengatakan saat ini pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Kendari masih melakukan perbudakan modern terhadap para perawat yang bekerja di RSUD Kota Kendari. Tercatat ada 131 perawat yang bekerja di RSUD Kota Kendari.

“Mengapa saya bilang perbudakan modern sebab para perawat yang bekerja di RSUD Kota Kendari sebelum bekerja harus menandatangani sebuah surat pernyataan yang mana didalamnya ada point tidak menuntut gaji atau upah diluar kemampuan Pemerintah Kota Kendari dan pihak RSUD Kota Kendari. Suratnya sudah ada sama saya sebagai bukti,” ujar Heryanto, Jumat (3/11/2017) di kantor DPW PPNI Sultra.

Baca Juga : Anda Pengguna Kartu Perdana Lebih Dari 1, Begini Proses Registrasinya !

Lebih lanjut, orang nomor 1 di PPNI Sultra ini menjelaskan informasi dan data yang berada di PPNI Sultra, para perawat di RSUD Kota Kendari di berikan gaji Rp 300 ribuan, dan tentu itu tidak mencukupi dari kebutuhan seorang pekerja profesi yakni perawat.

“Perawat itu ialah pekerja profesi yang mana digaji harus dengan layak, mereka tidak menuntut UMR ataupun UMK, yang mereka tuntut hanya upah layak,” tegasnya.

Baca Juga : Polemik Pelebaran Jalan Warangga, Dinas Kehutanan Sultra Surati Bupati Muna

“Perlu diketahui, seorang perawat dalam menempuh pendidikan mengeluarkan biaya, dan biayanya tidak sedikit, ditambah lagi, setelah lulus pendidikan harus melalui Uji Kompetensi itu mengeluarkan biaya, setelah itu harus mengambil STR dan itu juga harus mengeluarkan biaya, tidak hanya sampai disitu, setelah mengambil STR, apabila hendak bekerja juga harus mengurus SIPP (surat izin peraktek perawat). Bila digaji dengan Rp 300 ribu apakah cukup untuk kebutuhan seorang pekerja profesi, tentu tidak cukup,” ungkapnya.

Dengan demikian apabila pihak RSUD beralasan dengan jumlah perawat yang banyak, Heryanti meminta agar pihak RSUD Kota Kendari, Pemerintah Kota Kendari dan PPNI duduk bersama menghitung dan menganalisis kebutuhan para perawat.

“Mengapa Bombana bisa mengaji perawat Rp 1,4 Juta di luar uang jasa. Untuk itu mari kita duduk bersama menganalisis kebutuhan perawat, ingat yang mereka (perawat) tuntut bukanlah UMR melainkan Upah layak,” ungkap Heryanto.

Laporan : Awi

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •