Sidang Kematian Bripda M Faturrahman, Lima Saksi Akui Korban Dipukuli Dua Seniornya

oleh -45 views
Adegan ke 14 dalam rekonstruksi tampak Bripda Zulfikar memukul Bripda M Fatur. Foto : Istimewa
  • 4
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    4
    Shares

ANOATIMES.ID.KENDARI – Sidang kematian bintara muda Sat Dalmas Polda Sultra, Bripda M Faturrahman kembali di gelar di Pengadilan Negeri (PN) Kendari, Senin (26/11). Kali ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan lima saksi yang juga sekaligus korban pemukulann dari dua bintara senior mereka yakni Bripda Fislan dan Bripda Zulfikar.

Kelima saksi yang dihadirkan meripakan leting dari almarhum Bripda M Faturahman , Fadil, Harry, I Putu Gede, Irmawan dan Reza. Kesaksian kelima mengakui bahwa dua senior mereka itu (Zulfikar dan Fislan) melakukan pemukulan terhadap almarhum Bripda M Faturahman, tidak hanya kepada almarhum, kedua senior mereka itu juga melakukan pemukulan terhadap rekan-rekan almarhum termasuk terjadap para saksi kala itu.

Baca Juga : Rekonstruksi Kematian Bripda M Fatur, Keluarga Korban: Pecat Para Pelaku

Saksi pertama, Fadil menceritakan sekitar jam 12 malam mereka dibangunkan oleh kedua terdakwa.

“Kami yang berjumlah 19 orang dibangunkan lalu kami dibariskan dan disuruh berlutut. Lalu, Zulfikar bertanya siapa diantara kalian yang jalan dengan istriku,” ucap Fadil menceritakan kembali kisah itu dihadapan majelis hakim yang diketuai I Ketut Pancaria.

Saat mendapat pertanyaan dari Zulfikar, Almarhum dan rekan-rekannya termasuk tidak menjawab pertanyaan Zulfikar. Setelah itu Zulfikar mendaratkan pukulan ke perut mereka masing-masing.

Setelah Zulfikar melakukan pemukulan, dirinya meminta bantuan kepada Fislam untuk ikut memukul. Kesaksian Fadil ini juga senada dengan kesaksian empat rekan lainnya. Bahkan mereka mengungkapkan ada perbedaan gaya pukulan dilakukan salah satu terdakwa yaitu Fislan.

Mereka menerangkan, sebelum korban mendapat giliran dipukul, empat rekan korban terlebih dahulu dipukuli oleh Fislan dengan menggunakan tangan kanan. Saat giliran almarhum, pukulan cukup keras dilakukan Fislan dengan cara tangan kirinya digenggamkan ke tangan kanan.

Tangan kiri tersebut menurut mereka, mungkin sebagai bantuan dorongan pada tangan kanan saat pukulan mengarah ke dada kiri korban.

“Setelah Faturrahman dipukul Fislan. Dia ( Faturrahman) langsung terjatuh ke lantai dan tubuhnya kejang-kejang,” kata saksi Harry.

Ternyata efek pukulan ini cukup keras. Hal itu terungkap dari hasil visum yang dibacakan jaksa atas permintaan majelis hakim.

Jaksa Nurul Yakin yang menangani perkara itu membacakan hasil visum rumah sakit Bhayangkara Kendari diantaranya, visum luar tubuh korban ditemukan luka memar dada kiri dan memar perut bagian bawah akibat sentuhan benda tumpul yang keras.

“Serta tidak ditemukan penyakit pada korban yang berefek tambahan penyebab kematian korban. Sedangkan visum dalam tubuh korban ada cedera dibilik kanan jantung dan retak tulang rusuk ketujuh pada dada kiri korban,” ucapnya.

Kasus pemukulan mengakibatkan Faturrahman meninggal memantik pertanyaan hakim ketua I Ketut Pancaria. Ia bertanya pada kelima saksi apa di Polda Sultra ada hukuman berupa pemukulan untuk mendisiplinkan anggota polisi. Kelima saksi tersebut menjawab tidak ada.

“Selama kami tinggal di barak hukuman pembinaan hanya lari di mlam hari dan push up. Kalau hukuman dipukul belum pernah ada,” kata saksi Fadil.

Laporan : Jayusman

  •  
    4
    Shares
  • 4
  •  
  •  
  •  
  •  
  •