Tensi Darah Tinggi, Alasan Arwin Kadaka Tidak Ditahan

oleh -37 views
Polisi saat membawa Laode Arwin Kadaka ke ruang tahanan Polda Sultra. Foto : Doc Anoatimes.id
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

ANOATIMES.ID, KENDARI – Proses penuntasan kasus dugaan korupsi percetakan sawah di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra) dengan terdakwa Wakil Ketua DPRD Kabupaten Muna, Arwin Kadaka sampai saat ini masih terus bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Kendari. Terbaru, agenda sidang mendengarkan saksi yang meringankan terdakwa.

Rupanya, selama menjalani proses persidangan, status Arwin Kadaka ialah tahanan kota, dengan kata lain, anggota DPRD Kabupaten Muna dari Partai Gerindra ini tidak ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Kendari.

Humas PN Kendari, Kelik Trimargo, mengatakan permohonan tidak ditahannya terdakwa berawal keterangan penasehat hukum terdakwa bahwa kliennya sedang sakit.

“Dimana terdakwa pada sidang perdana tanggal 31 Oktober 2017 tidak bisa menghadiri sidang karena sakit, ” kata Kelik, Selasa 27/2 diruangan kerjanya.

Baca Juga : RDP Pelabuhan Nipa-nipa, Kontraktor, Kosultan Perencana dan Pengawas Mangkir

Lebih lanjut Kelik menjelaskan, berdasarkan surat keterangan dari dokter rutan, surat rujukan Puskesmas Puuwatu dan surat keterangan dokter ahli syaraf di Rumah Sakit Bahteramas memberitahukan terdakwa Arwin Kadaka butuh rawat jalan akibat tensi darah tinggi yang di deritanya sejak di tahan di Rutan Kendari.

“Berdasar surat keterangan itu majelis hakim seingat saya bulan November 2017 mengeluarkan surat keputusan penetapan yang bersangkutan berstatus tahanan kota. Penetapan ini dikeluarkan agar terdakwa bisa mengobati sakitnya karena kita tahu rutan anggarannya sedikit untuk merawat tahanan yang ada dirutan,” terangnya.

Tapi selain surat keterangan diatas kata Kelik, secara tertulis dihadapan hakim, penasehat hukum dan keluarga Arwin Kadaka siap menjaminkan diri mereka jika terdakwa mangkir dari persidangan.

“Jika terdakwa tidak hadir dipersidangan sekali saja tanpa alasan yang jelas, maka kami akan perintahkan penyidik jaksa melakukan penangkapan terhadap terdakwa,” kata mantan hakim PN Pasuruan Jawa Timur ini.

Kelik menambahkan, tidak cuma terdakwa bahkan penasehat hukum dan keluarga terdakwa bisa ditahan bahkan hakim bisa menetapkan denda uang nilai nominalnya besar misalnya Rp 3 miliar.

“Tentunya mereka harus siap menerima konsekuensi ini jika terdakwa mencoba mangkir dari persidangan. Dan juga terdakwa telah membuat surat pernyataan ia tidak akan mencoba melarikan diri, tidak mengulangi perbuatannya dan tidak merusak barang bukti,” terangnya.

Dari sidang perdana sampai pemeriksaan saksi, Kelik mengungkapkan kalau Arwin Kadaka kooperatif selama persidangan dengan selalu hadir yang mana sidangnya telah memasuki pemeriksaan saksi meringankan.

Laporan: Man

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •