Terdakwa Kasus Kematian Jalil Lepas dari Dakwaan Jaksa

oleh -35 views
Terdakwa Muhammad Ikhsan alias aca saat duduk di kursi pesakitan mendengarkan putusan majelis hakim. Foto : Jayusman / anoatimes.id
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

ANOATIMES.ID, KENDARI – Muhammad Ichsan Aqsyar alias Aca dan Achmad Dirga Amiluddin alias Dirga, terdakwa dugaan kasus penganiayaan almarhum Jalil, sepertinya bakal menghirup udara bebas.

Pasalnya majelis hakim Pengadilan Negeri Kendari memutuskan dua oknum polisi itu lepas dari dakwaan jaksa penuntut umum (JPU) atau Onslag van recht vervolging.

Putusan yang dibacakan hakim ketua Kelik Trimargo, Selasa (8/5), menimbang walaupun kedua terdakwa terbukti melakukan tindak pidana penganiayaan sebagaimana dakwaan subsidair yaitu pasal 351 tentang penganiayaan. Namun hakim berpendapat apa yang dilakukan kedua terdakwa merupakan daya paksa (Overmacht) yang diatur pasal 48 KUHP.

Dimana Iksan dan Dirga sebagai polisi semata-mata melakukan kewajiban hukum menindaklanjuti adanya laporan aksi curanmor dilakukan penangkapan almarhum Jalil dan adanya upaya korban untuk melarikan diri sehingga salah satu terdakwa terpaksa menembak korban.

“Walaupun unsur tindak pidana penganiayaan terpenuhi, tapi apa yang dilakukan terdakwa dengan melumpuhkan korban dengan tembakan mengenai pas di betis kiri korban adalah bertujuan agar korban tidak melarikan diri,” kata Kelik dalam putusan yang dibacakannya.

Selain itu, majelis hakim pertimbangkan alasan pembenaran Jalil dilumpuhkan dengan cara ditembak, yaitu Peraturan Kapolri Nomor 1 dan 8 tahun 2009.

“Penggunaan senjata api oleh polisi yang mana polisi sebelum beri tembakan untuk melumpuhkan penjahat, polisi mesti memberi tembakan peringatan tiga kali,” terangnya.

Dari fakta sidang lanjut Kelik, korban berupaya melawan petugas termasuk mencoba mengambil senapan laras panjang yang diselempangkan Dirga.

Selain pertimbangan di atas. Majelis hakim berpendapat meninggalnya Jalil dikarenakan yang bersangkutan tidak mendapat pelayanan kesehatan yang layak di Rumah Sakit Bhayangkara Kendari.

“Berdasarkan keterangan saksi-saksi di pengadilan, korban kurang mendapat pelayanan medis yaitu tidak mendapat layanan rawat inap dan transfusi darah. Luka korban hanya mendapat perawatan beban tekan pada lukanya untuk menghentikan pendarahan,” tuturnya.

Pertimbangan majelis hakim ini berdasarkan keterangan saksi ahli kedokteran forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, menyatakan hilangnya nyawa Jalil disebabkan putusnya pembuluh darah arteri korban akibat luka tembak di betis kiri almarhum.

Atas pertimbangan tersebut, majelis hakim menganggap mereka memang melakukan tindak pidana penganiayaan tetapi karena pengaruh daya paksa tindakan keduanya tidak dapat dipidana.

Laporan : Man

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •